Max Dowman lebih memilih membiarkan performanya di atas lapangan yang berbicara. Dua gol ke gawang Ipswich di Carabao Cup membuatnya menyamai catatan rekor 24 tahun milik Wayne Rooney, sekaligus memicu perbandingan gaya bermain dengan Lionel Messi di kalangan suporter.
Remaja 16 tahun ini menjadi pemain muda yang paling sering dibicarakan di sepak bola Inggris saat ini. Situasi tersebut tentu tidak mudah dihadapi oleh seorang pemain yang usianya bahkan belum lepas dari masa remaja.
Namun, komentar Myles Lewis-Skelly mengenai kepribadian Dowman di luar lapangan memberikan sinyal yang sangat positif bagi masa depan sang pemain akademi.
Kesiapan Belajar dan Mentalitas yang Tepat
Berbicara kepada Sky Sports, gelandang Arsenal tersebut ditanya mengenai perannya dalam membantu proses transisi Dowman menembus tim utama, mengingat Lewis-Skelly sendiri baru saja melewati jalur akademi yang sama.
"Max adalah tipe pemain yang ingin dibimbing dan ingin dilatih," ujar Lewis-Skelly. "Jadi, jika seseorang terbuka untuk menerima masukan, tentu saja saya bisa membantu."
"Selain kemampuan olah bolanya, Max adalah pribadi yang luar biasa. Dia anak yang baik. Jadi saya sangat senang bisa membantunya, dan saya tahu saya memang membantunya."
Standar Disiplin Mikel Arteta di Arsenal
Banyak talenta muda berbakat gagal memenuhi potensi maksimal mereka karena masalah sikap. Kemampuan teknis memang penting, namun sikap profesional, kemauan mendengarkan instruksi pelatih, serta kerendahan hati adalah faktor pembeda utama.
Sejauh ini, indikasi pada diri Dowman menunjukkan bahwa ia memiliki semua atribut non-teknis tersebut. Di bawah arahan Mikel Arteta, Arsenal menerapkan standar kultur disiplin yang ketat, di mana pemain bertalenta sekalipun tidak akan mendapat keistimewaan tanpa kerja keras.
Berdasarkan penilaian Lewis-Skelly, Dowman memiliki hasrat belajar yang tinggi dan mau mendengarkan arahan. Barisan pertahanan lawan mungkin dibuat kerepotan di lapangan, namun di luar itu, ia tetaplah seorang pemain muda yang fokus menempa diri.