Arsenal sukses mengamankan kemenangan meyakinkan 3-0 atas Lille di ajang Liga Champions. Meski meraih tiga poin penuh, tidak semua pemain merasa puas dengan kontribusi individunya di lapangan.
Laga sempat berjalan ketat pada babak pertama. Meski tampil mendominasi, lini belakang Lille tampil disiplin sehingga membuat lini serang Arsenal frustrasi. Kebuntuan akhirnya pecah setelah Jurrien Timber mencetak gol pembuka lewat sepakan akurat.
Mikel Arteta kemudian melakukan pergantian tiga pemain sekaligus dengan memasukkan Kai Havertz, Bukayo Saka, dan Martin Odegaard secara bersamaan. Keputusan ini terbukti efektif karena ketiganya langsung mengubah jalannya laga dan membantu Arsenal mencetak dua gol tambahan hanya dalam kurun waktu enam menit.
Ambisi Besar Kai Havertz
Musim ini, Havertz menjadi salah satu pilar penting di lini depan Arsenal. Setelah sempat diganggu cedera musim lalu, penyerang asal Jerman tersebut langsung produktif dengan catatan tiga gol dan dua assist di awal musim ini.
Salah satu assist terbarunya dicetak saat melayani Bukayo Saka untuk gol ketiga Arsenal ke gawang Lille. Selepas pertandingan, Arteta mengungkapkan sisi lain dari mentalitas pemainnya tersebut.
"Dia sangat kompetitif. Saat masuk melawan Lille, dia langsung memberikan dampak besar di lapangan. Tapi setelah laga usai, dia justru sangat kesal karena tidak mencetak gol," kata Arteta dalam konferensi pers.
"Dia senang bisa membantu tim, tapi tetap kecewa tidak mencetak gol. Mentalitas seperti itulah yang kami inginkan, pemain yang selalu ingin berkembang setiap hari," tambahnya.
Tidak hanya memuji mentalitasnya, Arteta juga menilai Havertz memiliki pemahaman taktik atau football IQ terbaik di dalam skuad Arsenal saat ini.
"Pemecahan masalah dan kecerdasannya di lapangan sangat luar biasa. Dia memahami instruksi dengan sangat cepat dan memproses informasi lebih baik dari siapa pun di tim ini, terutama untuk ukuran seorang penyerang," pungkas Arteta.