Mikel Arteta telah resmi memperpanjang kontraknya di Arsenal hingga 2030. Selama membesut The Gunners, manajer asal Spanyol ini sudah merasakan banyak momen besar, mulai dari juara Piala FA 2020, menang di derbi London Utara, hingga hasil-hasil bagus di Liga Champions melawan Manchester City dan Real Madrid.
Namun, saat ditanya oleh The Athletic soal pertandingan mana yang paling ingin ia rasakan lagi—antara kemenangan telak 3-0 atas Real Madrid atau laga ketat melawan West Ham United pada Mei lalu—Arteta justru menjatuhkan pilihannya ke London Stadium.
Ujian Pertahanan Rapat dan Penyelamatan Krusial David Raya
Jika laga kontra Real Madrid diwarnai performa eksplosif dan gol-gol bola mati dari Declan Rice serta Mikel Merino, pertandingan melawan West Ham justru menguras energi mental secara total. Tuan rumah tampil dengan pertahanan blok rendah yang sangat rapat, membuat Bukayo Saka dan kawan-kawan frustrasi selama lebih dari 80 menit.
Titik balik laga terjadi jelang akhir pertandingan saat West Ham nyaris mencetak gol lewat serangan balik cepat. Beruntung, David Raya melakukan penyelamatan krusial menggunakan pahanya untuk menyelamatkan gawang Arsenal. Tidak lama berselang, umpan matang Martin Odegaard berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh Leandro Trossard untuk memecah kebuntuan.
Drama belum selesai di situ. West Ham sempat mencetak gol di masa stoppage time lewat situasi sepak pojok, namun dianulir oleh VAR karena ada pelanggaran terhadap Raya di kotak penalti.
Karakter Tim Juara Dibentuk dari Tekanan
Bagi Arteta, intensitas tinggi dan tekanan luar biasa di laga-laga sulit seperti itu sangat krusial untuk membentuk mentalitas juara di dalam skuadnya.
Pilihan Arteta ini memperlihatkan bahwa ia sangat menghargai ketahanan mental dalam membongkar pertahanan berlapis, sesuatu yang kerap menjadi batu sandungan Arsenal dalam perburuan gelar juara Liga Inggris.